Nawal Sa'dawy/ Samirah binti al-Jazirah

Lahir di sebuah desa di luar Kairo pada tahun 1931, anak kedua dari sembilan bersaudara, El Saadawi menulis novel pertamanya pada usia 13 tahun. Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah, dengan sedikit uang, sedangkan ibunya berasal dari latar belakang kaya. Keluarganya berusaha menikahkannya pada usia 10 tahun, tetapi ketika dia menolak, ibunya membelanya. Orang tuanya mendorong pendidikannya, tulis El Saadawi, tetapi dia menyadari sejak usia dini bahwa anak perempuan kurang dihargai daripada anak laki-laki.
Belakangan dia menceritakan bagaimana dia marah-marah ketika neneknya berkata kepadanya, "satu anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan ... Perempuan adalah hama".
"Dia melihat ada yang salah dan dia bersuara," kata Dr Amin. "Nawal tidak bisa memalingkan dirinya."
Salah satu pengalaman masa kecil yang didokumentasikan El Saadawi dengan begitu jelas sehingga membuat pembacanya tidak nyaman adalah menjadi korban sunat perempuan atau female genital mutilation (FGM) pada usia enam tahun.
Dalam bukunya, The Hidden Face of Eve (terbit di Indonesia dengan judul 'Perempuan dalam Budaya Patriarki'), dia menceritakan pengalamannya menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi, sementara ibunya berdiri di sampingnya.
Dia berkampanye menentang sunat perempuan sepanjang hidupnya, dengan alasan bahwa praktik itu adalah alat yang digunakan untuk menindas perempuan.
Nawal el saadawi Dikenal di seluruh dunia sebagai penulis novel dan pejuang hak-hak perempuan. Buku-bukunya menggambarkan keadaan kaum perempuan Mesir dan dunia Arab. Novel nya mengisahkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir di tengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Salah satu novel nya yang terkenal yaitu perempuan dititik nol.
Samirah lahir di Mekkah tahun 1943 dari keluarga yang terpandang. Tulisannya menjelma anak panah di tengah Semenanjung Arab dan membuat banyak orang terbangun dengan karya-karyanya yang menyentuh tentang permasalahan pemudi Arab. Ia lebih suka memakai istilah banat (pemudi) untuk kisah-kisahnya.
Samirah adalah idola para pemudi arab karena karya-karyanya yang menyentuh tentang permasalahan pemudi Arab. Ia lebih suka memakai istilah banat (pemudi) untuk kisah-kisahnya. Jelas, ia berpihak pada persoalan remaja/pemudi Arab, Dalam banyak karyanya, ia memuntahkan amunisi penanya untuk membantu mengatasi permasalahan masyarakatnya. Ia menjadikan cerita sebagai wahana solusi bagi berbagai bentuk permasalahan pemudi di negaranya. Karyanya mengekspresikan segala permasalahan yang berseleweran, baik di benak, perasaaan, maupun hati para remaja dan pemudi Arab.
Adapun Karya-karyanya yang disukai para pemudi, penikmat sastra dan pengharap perubahan. Di antaranya; Wada’at Amaly (1958), Zikriyat Dami’ah, Bariq Ainaik (1963)

Jadi ada perbedaan besar antara nawal dan samirah, jika nawal karya nya banyak mengkaji perempuan-perempuan arab, sedangkan samirah sebaliknya yaitu para pemudi arab.

Apa yang mendasari nove novel nawal sangat kritis terhadap budaya patriakhi, dan Mengapa samirah menjadi idola pemudi arab ?
a. Karena Novel ini mengisahkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir di tengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Ketika perempuan masih mengalami ketimpangan hak dan tidak tidak pernah mendapatkan hak yang sama seperti yang didapatkan laki-laki. Seperti halnya bangsa Arab, budaya patriarki menjadi salah satu dasar perdebatan akan kedudukan perempuan dalam masyarakat dan masih menuai konflik. Mengenai hak-hak perempuan yang kurang terjamin, kebebasan dalam dunia politik, serta kungkungan hierarkis suami membuat perempuan terbelakang dalam segala kesempatan, mengalami diskriminasi, kekerasan,sertakemiskinan.

Negeri Arab yang dikenal dengan kondisi perempuan yang amat terbelakang menghadirkan sejuta cerita mengenai perempuan korban budaya patriarki. Nawal El Saadawi seorang doktor berkebangsaan Mesir menghadirkan sebuah novel yang menunjukkan perjuangan perempuan Mesir untuk merebut kedudukan dan hak-hak yang sama dan untuk mendapatkan perubahan nilai dan sikap laki-laki Mesir terhadap perempuan yang sepenuhnya belum tercapai. Lewat tokoh Firdaus, Nawal menguak sebuah alur cerita yang sangat pedas, keras, dan berani yang mengandung jeritan pedih, protes terhadap perlakuan tidak adil terhadap perempuan yang diderita, dirasakan, dan dilihat oleh perempuan itu sendiri.Perempuan di Titik Nol merupakan novel yang menghadirkan figur perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam budaya patriarki. Ia adalah seorang perempuan yang diciptakan oleh masyarakat yang sangat laki-laki menjadi makhluk kelas kedua yang berarti inferior.

b. Samirah menjadi idola pemudi arab Karena Tulisannya menjelma anak panah di tengah Semenanjung Arab dan membuat banyak orang terbangun dengan karya-karyanya yang menyentuh tentang permasalahan pemudi Arab. Ia lebih suka memakai istilah banat (pemudi) untuk kisah-kisahnya. Jelas, ia berpihak pada persoalan remaja/pemudi Arab, sesuatu yang biasa disembunyikan dalam derasnya arus patriarkhi. Akhirnya, Ia menjadi idola setiap pemudi Arab yang larut dalam air mata ketika membaca karyanya. Air mata yang benar adanya karena permasalahan mereka dibawa oleh Samirah dengan kejujuran dalam penggambaran dan indah dalam gaya bahasanya. Ceritanya menjadi hidup dalam setiap barisnya.

Adapun Karya-karyanya yang disukai para pemudi, penikmat sastra dan pengharap perubahan. Di antaranya; Wada’at Amaly (1958), Zikriyat Dami’ah, Bariq Ainaik (1963), Qatarat min ad-dumu’ (1967) Wadi ad-Dumu’ (antologi cerpen, 1967), wa Tamdli al-Ayyam (antologi cerpen, 1969), Fi Biladi, Wara’a al-dhabab (1970), Ma’tam al-Wurud (1973), dan Yaqzat al-Fatat al-Arabiyyah. (non fiksi).

Referensi:
https://today.salamweb.com/id/samirah-semenanjung-arab-suara-dalam-masyarakat-pemudi-arab/
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-56479673

Postingan populer dari blog ini

Mustafa Lutfi al-Manfaluti

Yusuf Idris

"Sastra Mahjar ( Tokoh dan Karyanya)"