"Tokoh Neoklasik dan Karyanya"
- Profil Al Barudiy
Profil Al Barudiy Nama aslinya adalah Jarkasiy. Sedangkan nama panjangnya Mahmud Sami Ibnu Husni Al Barudiy. Dia merupakan salah satu tokoh revolusi Arab dan penyair tersohor di Mesir serta pelopor berdirinya aliran neoklasik dalam dunia kesusastraan Arab. Dia memiliki beragam sebutan, di antaranya:(Si Raja Pedang dan Pena), (rajanya penyair) dan (penyairnya para raja). Di sini penulis mengartikan ketiga sebutan di atas sebagai julukan atau gelar yang dia dapati akibat kepiawaiannya di bidang militer dan kepenulisan serta mahir dalam bersyair.
ia dilahirkan pada tahun 1255 H /1839 M di kawasan Bakhirah tepatnya di desa Itay Al-Barud, Sudan. Namun dalam literatur lain disebutkan bahwasannya Al Barudiy dilahirkan di bumi Kairo. Dari namanya yang panjang, dia hanya dipanggil Al Barudiy, yang dinisbahkan pada tempat kelahirannya. Dalam bahasa kamus, kata Al Barudiy dinisbatkan pada "bedil" yang menjadi salah satu senjata di kancah pertempuran. Dia mendapat pendidikan langsung dari ayahnya "Hasan Husni Bik" sampai usia 7 tahun. Karena ayahnya wafat, dia diasuh oleh keluarganya, sampai usia 11 tahun, kemudian pada usia 12 tahun dimasukkan ke Akademi Militer Mesir. Dia berhasil menjadi salah seorang perwira militer pada tahun 1855 M. Dia kemudian mempelajari bahasa Turki dan Persi di Qustantiniah, ketika diutus membantu Turki melawan Rusia, Pangkatnya terus menanjak dengan menjadi pemimpin pasukan Mesir yang diperbantukan kepada Daulah Usmaniyah, ketika terjadi pemberontakan Balqan dan Iqrithis, Dia cukup ternama di berbagai kancah pertempuran karena strategi penyerangannya selalu membawa pulang kemenangan.
Sekembalinya ke Kairo-Mesir, dia menduduki banyak jabatan kemiliteran, kemudian diangkat oleh Taufiq Pasya sebagai pengawas urusan peperangan dan waqaf pada usianya yang ke 26 tahun, Dia mengundurkan diri dari kedua jabatan itu, namun diangkat kembali sebagai kepala pengawas, menjelang revolusi Arab. Dia pun berhasil menumpas kobaran api revolusi tersebut. Namun, usai revolusi, dia tertangkap dan dibuang ke pulau Sarandib (Seilon, Srilanka) selama 17 tahun. Di tempat pengasingannya itu, dia mempelajari bahasa Inggris. Dia banyak merenung dan mereflesikan diri tentang kehidupannya sehingga tertumpahkan dalam bait-bait syair. Dia kemudian terkena penyakit yang berujung pada kebutaan, sehingga diizinkan untuk kembali ke Mesir, pada tahun 1900 M." Dia kembali ke kediamannya dalam kedaan buta. Dia mengisi waktunya dengan menulis karya sastra, hingga akhirnya wafat pada tahun 1322 H/1904 M dalam usia kurang lebih 67 tahun (karena perbedaan tahun di beberapa referensi).
2. Apa point-point penting dari pendapat tokoh ini
- Al Barudiy
Saat itu Al Barudiy sangat gemar menelaah buku-buku sastra klasik terutama yang berkaitan dengan tema peperangan, patriotisme dan kepahlawanan. Dia menulis syair sejak kecil tanpa guru dan tanpa belajar Ilmu Al 'Arudh Wa Al Qawafi, Nahwu, Sharf dan Balaghah. Dia belajar mengenai syair-syair secara otodidak, dengan menirukan dan mengritik syair-syair milik penyair terdahulu. Dia juga banyak menghafalkan syair-syair itu kemudian meringkasnya, sehingga tampak keterpengaruhan Al Barudiy oleh para penyair pujaannya seperti Umrul Qais dan Ibnu Mutaz. Karenanya, tidak heran jika syair-syairnya yang awal senada dan senilai dengan milik penyair-penyair abad -3 dan -4 M. Bahasanya mengalun begitu indah dengan kata-kata manis dan makna yang agung serta gaya bahasa yang kuat " Disebutkan bahwasannya syair-syair Al Barudiy terkenal karena syairnya yang hidup dan kritis. Beberapa keistimewaan syair-syairnya, yaitu: bagus diksi dan maknanya dan strukturnya murni . Dia mengikuti syair-syair karya Ibnu Mu'taz, Abi Faras, Ar Radli dan At Taghraiy, dengan luapan emosi yang penuh , gaya bahasanya jernih dan beragam sehingga mengundang para pembacanya untuk bisa berlayar menjiwai setiap isi bait syairnya. Karya-karyanya yang terbaik, adalah yang ditulis ketika masa mudanya dan selama pengasingannya.
Pada masa Turki Ustmani, model puisinya sangat dangkal dan artifisial. Mungkin dikarenakan bahasa Arab bercampur dengan dialek Ustmani yang sempit. Ditambah lagi pada masa itu, pemerintah disibukkan dengan mengawasi hegemoni daerah taklukan Turki yang sangat luas. Apalagi pada masa Al Barudiy, banyak daerah Arab yang diduduki Turki memberontak, sehingga perhatian penguasa sangat kurang dalam memajukan keilmuaan dan peradaban khususnya sastra dan syair Arab. Melihat realitas kejumudan dan kerusakan bahasa itulah Al Barudiy menggagas suatu pembaharuan dalam dunia sastra Arab. Pembaharuan AI Barudiy bisa dilihat dari perluasan tema-tema lama dalam pembuatan syair, sehingga khazanah keilmuaannya menjadi beragam, terutama tema-tema lama yang meluas seperti ghazal (puisi cinta) yang di tambahi dengan nuansa cumbu rayu, hanin (kerinduan yang mendalam) dan fakhr (berbangga-bangga) serta mengusung tema-tema baru sebagai hasil transformasi dengan keilmu seperti tema nasionalisme, patriotisme, humanisme, dan tema sosial ke dalam sastra arab.
Sumber :
1. Badawi, Mustafa, Mukhtarat min al-Shi'r al-Arabi al-Hadith, Beirut: Dar al-Nahar li I-Nashr.
2. Al. Iskandi ,A. dan Mustofa Anani. 1916, الوسیط في األدب العربي ًوتاريخ .
3. http://www.cangcut.net/2018/04/biografi-al-barudi-dan-syairnya.html
4. Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor. قاموس "كرابیاك" العصر عربي-إوذوویسي . 1998 .Hlm. 292.
http://www.radenfatah.ac.id
http://www.radenfatah.ac.id