"Puisi Masa Kebangkitan"


1. Ceritakan bagaimana puisi Arab sebelum kedatangan Perancis
Zaman Turki Usmani, Sejumlah sejarawan sastra bersepakat bahwa sastra Arab pada zaman Turki Usmani, priode yang dimulai sejak runtuhnya kota Baghdad sampai pada masa ekspedisi Napoleon ke Mesir (1798 M), dicatat sebagai masa “kemunduran” sastra Arab. Pada masa itu kekuasaan Turki Usmani meliputi tiga benua: Asia, Eropa, dan Afrika dengan mengontrol kehidupan sosial, budaya, dan politik masyarakat yang dikuasainya. Pada abad ke-18 Masehi, negara-negara Arab masih berada dalam wilayah provinsi kekaisaran Turki Utsmani yang mengalami kemunduran sehingga wilayah ini terisolasi dari gerakan intelektual yang terjadi di Barat. Provinsi-provinsi ini hidup dalam keterkungkungan dan keterbelakangan budaya. Pada saat bersamaan terjadi ketidakstabilan politik di wilayah-wilayah kekuasaan Turki yang menyebabkan urusan pendidikan menjadi terbengkalai dan jumūd, tidak ada ide-ide baru dan inisiatif yang dilahirkan. Kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi digantikan dengan bahasa Turki sebagai bahasa resmi pemerintahan.
Dengan demikian, kebudayaan Arab mengalami kemunduran bahkan kelumpuhan, termasuk di dalamnya adalah sastra. Tidak banyak karya sastra yang dihasilkan pada masa itu. Semua terjebak pada kejayaan masa lalu, sebagai akibatnya adalah keterputusan generasi. Pandangan-pandangan sastra lama Abad pertengahan masih mendominasi lapangan sastra. Tidak ada pembaharuan dalam bersastra, hampir semuanya adalah peniruan gaya lama. Sebagian besar puisi Arab bernuansa “akrobat”. Semua yang dilakukan penyair adalah untuk menarik dan memberikan kesan terhadap audiensnya, dengan cara memanipulasi kata-kata tertentu dan menambahkan efek khusus. Mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam membuat puisi dengan cara yang baru, yaitu setiap kata dalam puisi dibuat sama, atau dibuat huruf dan kata dibubuhi titik-titik. Ada juga yang menulis puisi dengan cara memulainya dari belakang. Fenomena gaya penulisan yang tidak serius ini ada juga di badi.
Kondisi sastra Arab yang sangat memperihatinkan tersebut disebut sebagai kitsch, yaitu seni semu, yang oleh Eco, seorang ahli bahasa Italia, menyebutnya sebagai “sebuah dusta struktural”. Artinya, dusta yang dibuat secara sengaja karena kebuntuhan pikiran dan daya imajinasinya sebagai pengarang sehingga karya-karyanya tidak bermutu. Upaya penegakan kembali sastra Arab dilakukan dengan gerakan yang secara luas dikenal dengan al-Inbi‘āth (Renaissance), yang untuk pertama kalinya dimulai di Lebanon, Suriah, dan Mesir. Dari ketiga Negara tersebut gerakan ini menyebar luas ke belahan dunia Arab yang lain.

2. Ceritakan bagaimana puisi Arab bangkit
- Puisi Arab Abad Ke-19 (1801-1900)
Sebuah era akan disebut dengan “Masa Kebangkitan” (‘Ashr an-Nahdhah) tatkala didahului oleh masa “Masa Kemunduran” (‘Ashr al-Inhithâth). Tentang kapan berakhirnya masa kemunduran ini, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa berakhirnya masa kemunduran ini ialah ketika Napoleon memasuki Mesir (1798) dan ada juga yang berpendapat bahwa saat Dinasti Utsmani mengalami kekalahan pada PD I (1918). Sastra Arab, secara umum mengalami kemunduran di akhir zaman-zaman pertengahan, dan telah mencapai titik kulminasi terendahnya pada abad ke-19, yaitu masa sulit bagi masyarakat Arab karena merebahnya buta huruf, tersendatnya ekonomi, munculnya intimidasi dari pihak luar dan adanya pengasingan agama dari diri mereka.
Puisi Arab pada awal abad ke-19 secara berangsur-angsur sebenarnya mulai terpengaruh oleh Eropa, meskipun dalam praktiknya menghadapi berbagai hambatan dari kaum tradisionalis yang ingin menjaga konvensi mono-rima klasik. Para kaum tradisionalis yang berorientasi pada tradisi puisi Arab klasik ini kemudian sering disebut sebagai gerakan neo-klasik. Motif munculnya gerakan ini sebenarnya adalah mengangkat dan mengukuhkan eksistensi dan karakter budaya Arab untuk melawan kekuatan asing yang masuk dengan didasarkan pada peran imajinasi dan nilai lokalitas.
Sebagaimana neo-klasik Barat yang berusaha menghidupkan kembali sastra Yunani dan Latin Kuno, neo-klasik Arab berkeinginan kuat untuk menghidupkan keindahan puisi-puisi lama (terutama puisi-puisi masa Abasiyyah) dengan dibalut semangat dan tema baru meski tak begitu variatif. Secara sepintas, pembaharuan genre puisi yang dilakukan oleh gerakan neo-klasik pada masa ini tidak begitu kentara karena tidak memiliki banyak inovasi. Hal yang tampak justru hanyalah peniruan terhadap karya-karya klasik di masa sebelumnya. Puisi-puisinya cenderung mengikuti gaya-gaya lama, baik dalam hal perasaan, tujuan ideologis, dan juga bentuk ungkapan. Di antara penyair kenamaan yang mengusung gerakan ini adalah Boutrus Karâmah (1774-1851) (Suriah), Hasan Quwaidir (1789-1845) (Mesir), Nashîf Al-Yâziji (1800-1871) (Lebanon), Mahmûd Sâmî Al-Bârûdî (1838-1904) (Mesir), dll.
Dari nama-nama tersebut, Al-Bârûdî disebut-sebut sebagai pelopor kebangkitan puisi Arab modern. Ia digambarkan seperti seorang Mutanabbî di masanya. Tak ayal jika julukan “Sya’ir An-Nahdhah” (“Penyair Kebangkitan”) disematkan kepadanya. Dalam usaha mencairkan kebekuan di bidang puisi pada masa itu, ia melakukan berbagai macam usaha pembaharuan yang setidaknya memiliki dua tujuan, yaitu pertama, membebaskan puisi di zamannya dari keindahan yang dibuat-buat dan arkaisme palsu, dan kedua, mencari selera atau cita rasa puisi yang murni dengan cara menghidupkan kembali puisi besar di zaman Abbasiyyah dan tradisi puisi Arab klasik yang kaya dan yang tak asing baginya, bukan malah mencari tumpuan pada sastra Barat yang sama sekali tak dikenalnya.

Produk puisi yang dihasilkan oleh para penyair neo-klasik pada masa ini merupakan lanjutan dari tradisi skolastik yang lebih mementingkan kepandaian berbahasa daripada visi pribadi sehingga sebagian besar dari puisi mereka lebih mengedepankan kemerduan dan keindahan bunyi ketika dibacakan sehingga lebih bersifat oratoris daripada bersifat akrab dan liris. Namun demikian, karena para penyair neo-klasik berpedoman pada “selera yang baik”, “kehalusan”, dan “kecermatan” dalam struktur dan gaya, serta cenderung untuk -dengan penuh perasaan- mengungkapkan tema-tema sosial dan patriotik, maka jelas mereka itu telah menghidupkan kembali bahasa puisi yang sudah membatu, menghidupkan kembali kepekaan estetik yang sudah mati, sehingga pada dasarnya puisi mereka merupakan ungkapan otentik tentang gagasan-gagasan dan aspirasi-aspirasi yang berlaku di masa itu.

Sumber: 
1. Fadlil Munawwar Manshur, perkembangan sastra Arab dan Teori Sastra Islam, 14-16
2. https://sastraarab.com/2018/11/01/puisi-arab-modern-dari-abad-ke-19-hingga-abad-ke-21-bagian-i/


http://www.radenfatah.ac.id
http://www.radenfatah.ac.id

Postingan populer dari blog ini

Mustafa Lutfi al-Manfaluti

"Sastra Mahjar ( Tokoh dan Karyanya)"

Yusuf Idris