"Kemunculan Aliran Neoklasik ( Al-Muhafizun)"

1. Ceritakan bagaimana respon kaum neoklasik terhadap masuknya unsur-unsur pembaruan dalam puisi Arab?
Kemunculan aliran neoklasik ini mulanya sebagai reaksi atas kedatangan Napoleon ke Mesir tahun 1798, yang menandai masuknya kebudayaan Perancis ke dunia Arab. Gerakan yang dipelopori al-Barudi dan Syaugi ini disambut dan didukung para sastrawan lain di Mesir seperti Hafiz Ibrahim, Ismail Sobri, dan Ali al-Jarim; Ma'ruf al-Rasasi đan Jamil Sidqi di Irak; serta Basyarah al-Khauri di Lebanon.
Aliran ini memang tidak terlalu banyak melakukan inovasi pada teknik pengungkapan puisi. Namun demikian, melalui tokohnya, al-Barudi, ia berhasil menghidupkan kembali unsur subjektivitas dalam berpuisi yang telah lama ditinggalkan dalam tradisi puisi Arab saat itu. Al-Barudi membawa kembali style, bentuk, dan musikalitas puisi Arab pada masa keemasannya bukan untuk taklid buta atau larut dalam romantisme kejayaan penyair masa lampau. Akan tetapi langkah ini sebagai otokritik bagi penyair sezamannya untuk menjaga tradisi dan peradaban bangsa Arab, terlebih lagi mengembalikan kepercayaan penyair sezamannya untuk percaya diri dan muncul dengan karyanya yang baru. Hal ini senada dengan pernyataan Syawqi bahwa: "Al-Barudi adalah pelopor puisi modern kita. Ia benar-benar telah menyelamatkan puisi kita dari jerembab gaya yang lemah, tidak sehat. Lalu, ia memberinya kehidupan dan semangat masyarakatnya dimana ia berada. Oleh karenanya, puisi ia dijadikannya memiliki jiwa nyata bagi emosinya, perasaan masyarakatnya, dan peristiwa- peristiwa menyakitkan bagi dirinya dan mereka. 
Adapun motivasi awal yang membangkitkan aliran al-Barudi ini adalah mengangkat dan mengukuhkan eksistensi dan karakteristik budaya Arab untuk melawan kekuatan asing, Barat. Dari perspektif etika dan pengajaran, hal ini sama dengan yang dilakukan oleh para penyair neoklasik Barat ketika mengukuhkan eksistensi kejayaan filsafat Yunani sebagai mainstream kehidupan mereka. Perbedannya adalah bila di Barat, pada masa ini penyairnya mendasarkan bangunan puisinya pada peran rasionalitas dan nilai-nilai universal, maka Al-Barudi bangunan puisinya didasarkan pada peran imajinasi dan nilai-nilai local. 20
Aliran Neo Klasik umumnya masih memelihara kaidah puisi Arab secara kuat , misalnya keharusan menggunakan wazan ( pola ) dan qafiyah ( rima ) , jumlah katanya sangat banyak , uslub - nya ( gaya atau cara seseorang mengungkapkan dirinya dalam tulisan ) sangat kuat , tema-temanya masih mengikuti masa sebelumnya , seperti madah ( pujian - pujian ) , ritsa ( ratapan ) , ghazal ( percintaan ) , fakhr ( membanggakan diri atau kelompok ) , dan adanya perpindahan dari satu topik ke topik yang lain dalam satu qasidah ( ode ) . Namun dalam perkembangannya , mulai ada beberapa inovasi yang dilakukan sejumlah penyair .
 Kemunculan aliran ini menandai dimulainya sastra Arab berada dalam fase moderennya , disebabkan karena adanya beragam pengaruh dari luar sebagai hasil interaksi dengan banyak budaya dan tradisi , baik yang datang secara langsung karena penjajahan maupun yang dibawa oleh para duta Mesir yang menimba ilmu pengetahuan di Eropa . Meskipun demikian , beragam inovasi yang dimunculkan oleh para pengusung Neo - Klasik ternyata tidak sepenuhnya melepaskan mereka dari ikatan tradisi terhadap karya - karya pendahulu dalam penggubahan puisi , terutama dalam aspek metode ( uslub ) dan bahasa yang digunakan .
Adapun karakteristik dari aliran ini adalah :
 a. Para penyair mengangkat tema - tema puisi Arab klasik serta mengusung tema - tema baru dengan cara merespons tuntutan zamannya seperti tema patriotisme dan tema - tema sosial . 
b. Ada beberapa penyair yang mengakui pola qasidah klasik dengan meletakkan atlal dan ghazal di awal , namun ada juga yang mengabaikan pembukaan semacam ini sehingga dalam puisinya tampak ada kesatuaan tematik seperti puisi - puisi Ahmad Syauqi dan Hafiz Ibrahim
c. Larik tetap merupakan kesatuan makna dan seni, sedangkan qasidah semacam ini belum bisa mewujudkan satu kesatuaan struktur karya yang otonom. 
d. Referensi qasidahnya adalah kamus puisi Arab klasik, tetapi ada juga beberapa penyair yang mengambil kata-kata baru dari realitas kehidupan yang ada. 
e. Aspek didaktis dan etis sangat mendominasi.
 f. Sejumlah penyair mencoba menandingi puisi-puisi popular Arab klasik dan meniru tema, metrik, dan rimanya.




Sumber: 
1. Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Klasik dan Modern, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hal164 
2. Moh. Kanif Anwari, Madzhab Puisi Arab Modern Dialektika Barat-Timur, Yogyakarta: Adab Press 2012, Hal 13
3. Mustafa Badawi, Mukhtarat min al-Shi’r al-Arabi al-Hadith, Beirut: Dar al-Nahar li'l-Nashr
4. Moh. Kanif Anwari, Madzhab Puisi Arab Modern Dialektika Barat-Timur, Yogyakarta: Adab Press 2012, hal 14

http://www.radenfatah.ac.id
http://www.radenfatah.ac.id

Postingan populer dari blog ini

Mustafa Lutfi al-Manfaluti

"Sastra Mahjar ( Tokoh dan Karyanya)"

Yusuf Idris